fbpx
Budaya dan SastraSulsel
Trending

Upacara Ritual Mappadendang Masyarakat Bugis Di Kabupaten Wajo.

Asal usul Mappadendang

Mappadendang merupakan kata kerja dalam bahasa Bugis. dalam bahasa Indonesia, yaitu “mendendang” berkata dasar “dendang”. Mappadendang adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok, dan kompak yang disertai iringan bunyi-bunyian sebagai bentuk pengungkapan perasaan senang. Mappadendang merupakan upacara ritual tahunan yang dilakukan masyarakat Bugis jika musim panen tiba. Ritual mappadendang  biasanya dilakukan setelah panen raya, yaitu memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama, dilakukan setelah magrib hingga tengah malam.

Pada dasarnya, mappadendang dilakukan dengan menumbukkan alu ke lesung yang silih berganti dan berkolaborasi sehingga menghasilkan bunyi-bunyian. Ketika panen padi tiba, warga biasanya memotong ujung batang padi dengan ani-ani, yang menyerupai sebuah pisau pemotong berukuran kecil. Setelah terkumpul ani-ani tersebut dimasukkan ke dalam sebuah lesung dan dirontokkan dengan cara menumbuk. Suara benturan antara kayu penumbuk yang disebut alu dan lesung ini biasanya terdengar nyaring hingga membentuk irama ketukan yang khas rancak bertalu-talu. Gerakan dan bunyi tumbukan berirama inilah yang menjadi asal-usul seni mappadendang.

Ritual mappadendang telah dilakukan sejak pada masa nenek moyang dan telah dituruntemurunkan dari generasi ke generasi hingga pada masa sekarang ini masih terus dibudayakan dan dilestarikan karena sifatnya sakral sebagai pandangan hidup dalam hal ini untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ritual mappadendang dilakukan sebagai bentuk untuk mempertahankan warisan leluhur dan untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi. Ritual mappadendang merupakan gambaran bahwa masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan memiliki mata pencaharian utama bertani, yaitu penduduk Bugis di setiap daerah di Sulawesi Selatan bergantung pada usaha pertanian. Karena betapa terkesannya masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan dengan berbagai keindahan alamnya, karakter masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai tradisi Bugis, yaitu salah satunya, mappadendang.

Karena memiliki nilai seni yang khas, mappadendang kini telah menjadi tradisi dan aset kebudayaan di daerah Sulawesi Selatan. Selain mappadendang memiliki kesakralan dan kemistikan, mappadendang juga memiliki nilai seni dan keunikan tersendiri sehingga dalam pertunjukannya sangat menarik untuk ditonton, selain mappadendang dilakukan pada masa musim panen, juga biasa dikemas dan dipertunjukkan dalam berbagai acara, seperti; (1) acara menyambut rombongan pengantar pengantin mempelai pria sebelum bertemu mempelai wanita untuk melangsungkan upacara akad nikah pada pesta pernikahan adat Bugis, (2) pertunjukan dalam menyambut tamu, tokoh negara, petinggi-petinggi pemerintah, wisatawan atau budayawan, (3) pertunjukan dalam ajang acara hari ulang tahun daerah atau kabupaten, (4) pertunjukan dalam peresmian atau pembukaan suatu kegiatan lomba, (pekan olahraga, seni, atau festival), dan (5) pesta rakyat yang ada dalam kehidupan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.

 

Unsur-unsur dan Tata Cara Pelaksanaan Ritual Mappadendang

Mappadendang dikenal sebagai tradisi yang sangat sakral dan memiliki kemistikan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya seharusnya mengikuti aturan yang telah disepakati dan ditentukan. Pada umumunya sebagaimana dalam pelaksanaannya, adapaun unsur-unsur dan cara pelaksanaan ritual mappadendang telah diuraikan sebagaimana berikut ini.

 

Pelaku

Pelaku yang dimaksud di sini ialah orang yang terlibat langsung dan sebagai pelaku utama dalam pelaksanaan ritual mappadendang atau orang yang mendendangkan. Adapun pelaku utamanya, dilakukan oleh 9 (sembilan) orang yang teridri atas 6 (enam) orang perempuan yang disebut pakkindona dan 3 (tiga) orang pria yang disebut pakkambona. Dari sembilan orang pelaku tersebut harus memenuhi syarat, yaitu orang dewasa, paham tradisi Bugis, mampu atau cakap, dan orang-orang tertentu yang telah ditunjuk dan mendapat amanah dari tokoh masyarakat, pemangku adat, tokoh agama, dan pemerintah melalui kesepakatan dari hasil rapat adat.

 

 

Pakaian

Ritual mappadendang merupakan bagian dari tradisi dan adat masyarakat Bugis, maka dalam pelaksanaannya, orang yang terlibat langsung sebagai pelaku utama diharuskan dan disyariatkan mengenakan pakaian adat Bugis. Pakaian adat yang dikenakan pria yaitu jas tertutup dan  lipa’ sabbe (sarung sutera) yang dipakai setengah kaki (sampai lutut), sedangkan penutup kepala juga mengenakan lipa’ sabbe yang dililitkan di kepala menyerupai pahlawan yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur, yaitu Bapak Sultan Hasanuddin. Sedangkan yang dikenakan perempuan, yaitu baju bodo (waju bodo) juga berpasangan dengan  lipa’ sabbe (sarung sutera). Baju Bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku lengan yang berbahan dasar diambil dari kapas pilihan dan benang katun serta diproduksi dari hasil tenunan. Baju bodo dikenal juga dengan nama baju tokko. Sedangkan lipa’ sabbe (sarung sutra) yang dikenakan pria dan perempuan merupakan hasil tenunan dan berbahan dasar kain sutera.

 

Alat

Salah satu pendukung dalam keberlangsungan pelaksanaan ritual mappadendang, yaitu alat. Adapun alat yang digunakan pelaku dalam melakukan aksinya,  yaitu 1) walasoji, sebuah bilik baruga yang memiliki pagar dan  terbuat dari anyaman bambu, 2) lesung, sebuah alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras dan lesung ini biasanya berbentuk perahu dayung, 3) alu atau antan merupakan alat pendamping lesung atau lumpang dalam proses pemisahan sekam dari beras, dan 4) gendang, ialah salah satu alat musik tradisional yang terbuat dari kulit binatang dengan cara memainkannya dengan dipukul. Gendang ini hanya sebagai alat pelengkap atau untuk lebih menyemarakkan bunyi-bunyian dalam acara ritual mappadenang.

 

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Ritual Mappadendang

Sebagaimana telah disinggung pada bagian sebelumnya, bahwa waktu pelaksanaan ritual mappadendang dilaksanakan pada setiap tahunnya, yaitu pada musim panen padi tiba atau ketika memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama yang dilakukan setelah magrib hingga tengah malam. Namun, jika dilaksanakan dalam acara lain, maka waktu pelaksanaannya hanya disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan disesuaikan kebutuhan. Sedangkan tempat pelaksanaannya juga tidak menetap tetapi pada umumnya biasanya dilaksanakan di alam terbuka seperti lapangan. Hal tempat juga disesuaikan dengan kebijakan dan kesepakatan bersama dari kalangan masyarakat setempat.

Tata Cara Pelaksanaan Ritual Mappadendang

Dalam pelaksanaan ritual mappadendang, yaitu para perempuan atau pakkindona  beraksi dalam bilik dengan menumbukkan alu ke lesung secara bergantian hingga mendendangkan suara yang nyaring dan mengeluarkan irama yang seragam sehingga terasa indah didengar dan para penonoton pun yang menyaksikannya semakin bersuka ria dan merasa terhibur. Sedangkan pria atau pakkambona menabur padi ke lesung sambil menari-nari. Pada biasanya, kegaiatan ini dilakukan secara bergantian, yaitu terkadang pria yang menumbuk padi dan perempuannya yang menabur-menari atau sebaliknya. Kegiatan ritual mappadendang berlangsung berjam-jam tanpa ada batasan waktu, namun jika salah seorang dari pelaku utamanya ada yang merasa capek-lemas, maka dapat digantikan oleh pelaku yang lain, yaitu cadangan atau orang yang telah ditunjuk sebelumnya. Dan yang menariknya dalam ritual mappadendang ini, para penarinya dari kaum pria, menari dengan mengitari api sambil bernyanyi-nyanyi, membaca petuah-petuah atau nasiht-nasihat, dan sebagainya.

 

Catatan:

Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam versi berbahasa Inggris “Mappadendang as Secret Rituals of Bugis Community in South Sulawesi” di Universitas Andalas, Padang pada tahun 2015. Selain itu, Tulisan ini telah dimuat dalam buku Prosiding Seminar Internasional “Tradisi LIsan dalam Sistem Matrilineal” diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang”. Silakan klik:

www.wajocendekia.com/userfiles/download/SertifikatKegiatanIlmiah/Konferensi%20UNAND%20PADANG%202015_1.jpg

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close