fbpx
Budaya dan SastraWajo

Revitalisasi Masjid Tua Tosora, Ini Harapan Bupati Wajo

Acara Revitalisasi Masjid Tua Tosora yang berlangsung diruang Sekertariat Yayasan Budaya Wajo (YBW) Jl. Masjid Raya No. 6 Sengkang, Kamis 10 Oktober 2019.

Dalam sambutan Bupati Wajo Dr. H. Amran Mahmud mengatakan kalau Prof. Dr. Ir. Wahyuddin Latunreng akan membantu membangun sebuah destinasi kebudayaan di Wajo agar bisa menjadi destinasi budaya, wisata religi yang akan menjadi program andalan Wajo.

“Dari 25 program kami kedepan, akan ada unggulan disetiap kecamatan misalnya persuteraan kita, wisata budaya religi, Insya Allah bisa jadi penarik, sehingga Masjid Tua Tosora nantinya akan menjadi tempat belajar anak-anak kita, mendalami sejarah tentang Wajo, juga akan menjadi wisata pendidikan dan mengarahkan anak usia pendidikan untuk belajar sejarah Wajo disana nantinya,” ungkap Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si.

Dan dikatakan kalau jalanan ke Tosora juga nantinya akan dituntaskan, jalanan dari Paria ke Tosora juga akan dirampungkan demikian juga dari tampangeng, Jalan Bajo sampai ke Tosora, mudah mudahan bisa dirampungkan tahun depan.

“Akan ada peletakan batu pertama di Masjid kita ini, dan dengan momen ini kita bisa mengundang tokoh tokoh masyarakat yang ada di Kabupaten Wajo, dan juga dari luar untuk hadir bersama,”ungkap Bupati Wajo.

Juga disampaikan kalau bagaimana nanti menghindarkan masyarakat dari hal hal yang berbau Syirik, dan supaya digiring bahwa tempat ini betul-betul menjadi tempat ibadah, tempat orang berziarah, tempat orang belajar serta nilai-nilai apa yang bisa diangkat dari almarhum, termasuk pesan-pesan beliau yang bisa menjadi pembelajaran.

“Kalau bisa dilakukan lokakarya atau diseminarkan dan akan menjadi bahan referensi sejarah menjadi pembelajaran, paling tidak aktualisasi nilai nilai budaya, kearifan lokal yang kita miliki, sehingga bisa jadi tempat yang baik,” kata Bupati Wajo.

Prof Dr. Ir. Wahyuddin Latunreng, mengatakan bahwa program ini harus dimulai, dan dikatakan ketika berziarah ke tempat itu, dan ketika itu juga berjanji untuk bagaimana mengamankan artefak-artefak di sana.

Dan dijelaskan kalau Syekh Jamaluddin Al Akbar Al Hussein merupakan keturunan atau nenek dari Sunan Ampel dan situs ini mendapat pengakuan internasional yang dijelaskan bahwa beliau itu turunan kedua puluh Rasulullah dan merupakan Marga Husein atau anak dari Sayyidina Ali.

Dan gambar dari perencanaan situs ini sudah dirampungkan semua, dan ini bukan Masjid yang dipakai untuk salat lima waktu, tapi hanya dipakai untuk berzikir, salat sunat atau salat qasar saja, jadi tidak ada speaker atau sound systemnya karena sudah ada masjid di dekat situ.

“Jadi hanya betul-betul memfasilitasi orang yang haul atau berdzikir, modelnya dikembalikan waktu zaman 1936 dalam model pendopo dan non muslim juga bisa berkunjung ke sana, sehingga nanti ada pelataran khusus untuk yang non muslim, medianya juga terbuka atap saja yang nanti hanya menaungi makam dari Syekh Jalaludin,” ungkap Prof. Dr. Ir. Wahyuddin Latunreng.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close