fbpx
ArtikelNetizen

PATNER HIDUP

Ku tersenyum memandangnya. Manis sekali. Rasanya aku tak ingin melewatkan satu senyuman yang terukir dari bibirnya. Saat ini, kami berada disalah satu warkop dekat kampus.

“Kalau menurut aku ya, tulisan kamu bagusnya ditambah konflik lagi. Supaya pembaca kamu tambah greget gitu,” jelasnya.

Aku yang berada tepat disampingnya memperhatikan dengan seksama. Sesekali ia menscroll ke bawah naskahku. “Kira-kira konfliknya tentang apa ya, Kak?” tanyaku kemudian.

Jelas ku lihat, ia berpikir. Sembari membaca ulang naskahku.

“Hmm, kalau menurut aku. Mending kamu buat konfliknya itu ada keterkaitannya dengan konflik yang sebelumnya terjadi. Jadi, pas menurunan masalah itu bakal diselesaiin satu-satu. Atau bisa juga kamu pakai teknik penulisan yang sulit diduga pembaca,” sarannya.

Aku mengangguk setuju dengan saran yang baru saja ia berikan padaku.

Aku menyesap cappucino yang tinggal separuh itu hingga habis. Begitu pun dengan dia. NB ku sudah ia matikan beberapa menit yang lalu, masukan yang ia berikan padaku pun telah aku catat pada notebookku. Setelah membereskan barang-barangku. Aku dan dia beranjak pergi.

“Mau aku antar?” tanyanya begitu keluar dari warkop.

“Nggak usah, Kak. Aku naik taxi online aja,” tolakku

“Serius gak mau diantar?” ia menyakinkanku.

“Iya, Pan.”

“Hmm, ya udah deh. Aku duluan ya, kamu jaga diri baik-baik,” titahnya.

***

Malam ini, aku memperbaiki naskahku serta menambah konflik seperti yang dia katakan siang tadi di warkop. Aku harus menyulapnya sebaik mungkin sebelum ku kirim pada penerbit. Aku berharap semoga penerbit dapat menerima naskahku hingga naik cetak. Itu adalah impian terbesarku selama ini.

Ting!

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk.

Panji?

Aku membuka pesan singkat itu, lantas membalasnya. Kemudian aku melanjutkan tulisanku yang sempat tertunda. Kehadiran pesannya membuatku semakin bersemangat dalam menulis. Untaian kata pun mengalir indah pada halaman kerja Microsoft Wordku.

Tepat pukul 23.04 WITA.

Naskahku selesai, aku menutup NB.

Rasa letih telah menghantuiku, aku harus segera tidur. Karena esok aku harus bertemu dengannya untuk membicarakan naskahku lagi sebelum akhirnya aku kirim pada penerbit. Aku harus mendapat masukan darinya, walau hanya satu kata saja. Itu sangat berharga bagiku.

***

Senyuman itu tak pernah lepas dari bibirnya setelah membaca seluruh naskahku. Aku senang melihatnya.

“Sempurna.”

Itu adalah sebuah kata yang keluar dari mulutnya saat aku meminta saran pada dirinya. Aku tersenyum mendengarnya. Kata yang sangat indah.

“Jadi?” tanyaku meminta penjelasan.

“Kamu boleh coba kirim ke penerbit.” Itu katanya.

Maka hari itu, tepat jam makan siang di pojok kantin. Bersama dengan dia, dengan ucapan basmalah. Aku mengirim naskahku ke penerbit melalui e-mail. Ada rasa lega saat naskah itu terkirim. Namun, tidak sepenuhnya lega. Karena aku harus menunggu 3 bulan penuh untuk mendapat kabar apakah naskahku diterima atau tidak. Tapi berkat dirinya, aku merasa sedikit tenang.

Ah! Berada disampingnya selalu membuatku nyaman.

3 bulan berlalu.

Saat ini, aku masih ada di dalam kelas. Mata kuliah terakhir baru saja selesai dan aku baru saja membereskan buku tulisanku.

Ting!

Handphoneku berbunyi. Pertanda sebuah pesan masuk. Ternyata e-mail. Aku membuka e-mail tersebut dan saat membacanya aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Seketika itu, aku langsung menghubungi dia.

Ah! Sial.

Handphonenya tidak aktif. Kenapa disaat kabar baik seperti ini dia malah susah dihubungi? Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, namun tetap saja tidak bisa terhubung. Segera aku keluar kelas untuk menghampirinya. Setiap orang yang berpapasan denganku, aku tanya. Namun, pandangan mereka terlihat aneh. Seakan ia merasa kasihan padaku.

Ah! Aku tidak peduli.

Aku harus menemukannya.

Hari itu, aku tidak berhasil menemukannya. Kemanakah dia?

Hingga sampai naskahku berhasil dicetak dan menjadi best seller. Aku tak menemukan dirinya. Dia menghilang.

***

“Makasih, Kak.”

“Sama-sama,” kataku tersenyum setelah menandatangani sebuah buku karya milikku yang baru-baru ini menjadi best seller.

Remaja yang baru saja meminta tandatanganku pun telah berlalu dari meja tempatku menikmati secangkir cappucino. Aku menghela nafas panjang, memandangi pantai dari atas sini.

6 bulan telah berlalu.

Dia hilang.

“Bila!”

Lamunanku buyar, aku menoleh ke asal suara itu.

“Ya,” jawabku ketika sosok yang memanggilku itu mendekat.

“Selamat ya! Akhirnya buku kamu jadi best seller juga,” ucapnya padaku seraya mengulurkan tangannya.

“Terimakasih.” Aku menyambut uluran tangannya.

“Akhirnya impian kamu tercapai juga ya?” ucapnya lagi setelah duduk tepat di depanku.

Aku terseyum mendengar ucapannya. “Semua ini berkat Panji, aku gak akan jadi seperti sekarang kalau bukan dia,” kataku mantap.

“Panji?” katanya.

Seketika aku melihat raut wajah Irama berubah.

“Kenapa?” tanyaku heran.

Tiba-tiba ia memelukku. Sangat erat. Aku membalas pelukannya, walau sebenarnya aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Kamu yang sabar ya, Bil. Kamu harus kuat menjalani semua ini.” ucapnya dalam pelukan.

Seketika aku menangis. Teringat semua apa yang selama ini aku lakukan. Pantas saja semua orang melihat aku dengan pandangan aneh. Memesan dua cangkir cappucino di warkop. Ternyata selama ini aku berhalusinasi akan keberadaannya.

Ya Tuhan…

Dadaku semakin sesak.

***

2 tahun yang lalu.

Panji meninggal karena kecelakaan saat ia mengantarkan naskahku yang baru saja ia koreksi. Ia memang motivatorku. Jika aku malas menulis, ia yang selalu menguatkanku agar tetap menulis. Naskah yang sudah ia koreksi itu adalah naskah yang telah menjadi buku best seller saat ini. Hasil karya kami berdua. Maka tak heran jika cover buku itu tertulis dua nama penulis. Sebenarnya cuma aku penulisnya, namun karena dia yang selalu ada disaat aku badmood dalam menulis serta memberikan ide-ide cemerlangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencantumkan namanya pada buku pertamaku.

Ia motivasi bagiku.

Bahkan sampai saat ini, aku masih belum bisa menghapus bayang-bayangnya. Ia yang telah berhasil membantuku mewujudkan impian terbesarku. Menjadi penulis buku best seller.

 “Bahkan saat raga telah tiada pun, kau masih tetap dengan kesetianmu. Kau tetap dengan pendirianmu, menganggap bahwa diriku nyata adanya. Because you are my life.”

Patner Hidup by Bila and Panji.

 

Jumat, 22 Juni 2018

Tags
Show More

Sri Wahyuni

Tinggalkan jejak dalam goresanmu, agar yang melihat atau menemukan dapat membacanya. Dirimu hilang tak sia-sia.

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close