fbpx
ArtikelBudaya dan Sastra

Mappadendang, Tradisi Yang Masih Terus Hidup di Kalangan Masyarakat Watangkalola

Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta pasca panen pada suku bugis merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi kepada yang maha kuasa.

Seperti halnya yang dilakukan masyarakat Watangkalola, Desa Sogi, Kec. Maniangpajo hari ini, Rabu (09/10/2019). Masyarakat melakukan prosesi mappadendang yang dimulai dengan menumbuk alu kosong dengan irama-irama tertentu.

Hari ini, beberapa perwakilan dari instansi pemerintah turut hadir, serta anggota DPRD Kab. Wajo, hadir pula para tokoh masyarakat serta mahasiswa IAIN Pare-Pare yang sementara KKN di Kec. Maniangpajo.

Gelaran acara ini juga menjadi salah satu bentuk pelestarian Tradisi Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta pasca panen sebagai adat masyarakat bugis yang telah ada sejak dahulu kala.

Di Watangkalola sendiri acara ini dilaksanakan rutin setiap tahun ketika selesai panen kedua.
Masyarakat berkumpul dalam satu tempat untuk melakukan beberapa rangkaian acara seperti mappadendang, atraksi silat, menabuh gendang tradisional, serta permainan mattojang (ayunan raksasa).

Permainan mattojang ini merupakan permainan yang membutuhkan nyali dan keberanian yang kuat karena orang yang berayun akan berada diposisi yang tinggi atau bisa mencapai 15 meter.

Sebuah tali (biasanya menggunakan peppa) ditarik oleh dua orang laki-laki untuk mengayunkan orang yang duduk di atas Tudangeng. Dua orang tersebut dinamakan paddere yang menarik tali hingga pemain bisa berayun hingga di ketinggian.

 

Penulis : Wahyu Ambo Tang (Ayyub)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close